KARO —
Pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Sejumlah mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara membuktikan bahwa alam adalah laboratorium terbaik melalui kegiatan ekspedisi edukatif ke kawasan Gunung Sibayak, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Jumat (24/04/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tugas akademik yang diberikan dosen kepada mahasiswa untuk mencari dan mengidentifikasi berbagai jenis hama tanaman langsung di habitat aslinya.

Praktik lapangan ini menjadi metode pembelajaran nyata agar mahasiswa mampu memahami ekosistem pertanian secara langsung, bukan sekadar teori di bangku kuliah.
Perjalanan dimulai dari Kota Medan dengan berboncengan sepeda motor menuju kaki gunung.
Sesampainya di lokasi pendakian, para mahasiswa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menapaki jalur alami pegunungan.

Pendakian bukan perkara mudah. Mereka harus melewati jalan setapak yang licin, semak belukar yang rapat, kabut tebal yang membatasi pandangan, hingga hujan yang turun di tengah perjalanan.
Namun, kondisi alam tersebut justru menjadi pengalaman belajar yang berharga yang penuh tantangan adrenalin.

Seorang mahasiswa Dafa Abiyyu terlihat tetap bersemangat bersama rekan-rekannya meski medan yang dihadapi cukup berat.
Dengan membawa perlengkapan penelitian sederhana, mereka menyisir dedaunan liar, batang tanaman, serta kawasan vegetasi pegunungan untuk menemukan berbagai jenis hama tanaman sebagai bahan studi.

Di tengah udara dingin pegunungan dan aroma tanah basah setelah hujan, rombongan mahasiswa melakukan pengamatan langsung terhadap pola hidup hama, lingkungan tumbuh tanaman liar, hingga faktor alam yang memengaruhi perkembangan organisme pengganggu tanaman.
Panorama alam pegunungan yang indah menjadi bonus tersendiri. Hamparan hijau lereng gunung, bebatuan vulkanik, serta pemandangan yang mengarah ke megahnya Gunung Sinabung memberikan pengalaman petualangan ilmiah yang tidak terlupakan.

Menurut para mahasiswa, kegiatan lapangan seperti ini tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik, tetapi juga membentuk mental tangguh, kerja sama tim, serta kecintaan terhadap alam dan dunia pertanian.
Ekspedisi edukasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa pertanian dituntut untuk siap menghadapi kondisi nyata di lapangan.

Mendaki gunung, menembus hujan dan kabut, hingga mencari hama tanaman di alam liar menjadi bagian dari proses membangun generasi pertanian yang kuat, ilmiah, dan berkarakter.
Bagi Dafa Abiyyu dan rekan-rekannya, perjalanan menuju puncak bukan sekadar pendakian fisik, melainkan perjalanan ilmu pengetahuan — belajar dari alam, memahami tantangan pertanian, dan menyiapkan diri menjadi penerus pembangunan sektor pangan Indonesia di masa depan.(KINKIN)



















