Medan —
Di tengah keramaian bazar produk hasil karya Warga Binaan Pemasyarakatan menyambut HBP ke 62 di halaman Kantor Wilayah Ditjenpas Sumatera Utara, Jumat (10/04/2026), ada satu karya kecil yang membuat banyak pengunjung terdiam lama.
Bukan karena bentuknya paling mewah, tetapi karena kisah di baliknya begitu dalam dan memilukan yakni Boneka mungil itu diberi nama My Lala, sebuah karya suvenir dari warga binaan Rumah Tahanan Negara Perempuan Kelas IIA Medan yang lahir dari luka kerinduan seorang ibu kepada anaknya.

Boneka My Lala bukan sekadar hasil keterampilan tangan. Ia tercipta dari perjalanan hidup seorang perempuan yang harus menjalani masa pidana tepat ketika ia juga menjalani peran terpenting dalam hidupnya: menjadi seorang ibu.
Sang warga binaan melahirkan buah hatinya di tengah keterbatasan ruang dan waktu. Tangisan bayi yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi awal perpisahan yang menyakitkan.

Kondisi kesehatan sang bayi kala itu membutuhkan perawatan khusus di luar rutan. Demi keselamatan anaknya, bayi tersebut akhirnya harus dititipkan kepada keluarga—kepada orang tua atau mertuanya.
Sejak saat itu, pelukan seorang ibu hanya menjadi kenangan singkat. Tidak ada kesempatan menyusui setiap pagi, tidak ada waktu menimang ketika bayi menangis di malam hari, dan tidak ada momen melihat tumbuh kembang anak secara langsung.
Yang tersisa hanyalah cerita dari keluarga dan bayangan wajah kecil yang terus hidup di dalam ingatannya. Hari-hari di balik jeruji menjadi sunyi dan panjang. Rasa bersalah, rindu, dan kehilangan bercampur menjadi satu.
Dalam kesendirian itulah, sang ibu mulai mencari cara untuk tetap merasa dekat dengan anaknya. Ia mengambil kain sisa, benang, dan jarum. Dengan tangan yang kadang bergetar karena menahan tangis, ia mulai menjahit sebuah boneka kecil yang ia bentuk menyerupai bayinya.
Setiap jahitan menjadi doa. Setiap helai benang menjadi ungkapan cinta yang tak bisa ia sampaikan secara langsung.
Boneka itu kemudian ia beri nama My Lala, nama yang baginya adalah simbol kasih sayang dan harapan agar suatu hari kelak ia dapat kembali memeluk anaknya tanpa batas.
Melihat proses tersebut, petugas pembinaan Rutan Perempuan Kelas IIA Medan memberikan pendampingan hingga karya tersebut berkembang menjadi produk suvenir bernilai ekonomi dan edukatif.
Boneka My Lala bukan hanya menjadi terapi emosional bagi sang ibu, tetapi juga membangkitkan kembali rasa percaya dirinya sebagai manusia yang masih memiliki masa depan.
Kini, karya tersebut bahkan telah resmi didaftarkan hak ciptanya sebagai bentuk perlindungan karya intelektual sekaligus penghargaan atas kreativitas warga binaan.
Kepala Rutan Perempuan Kelas IIA Medan, Rahayu Setyoreni, yang ditemui wartawan di sela kegiatan bazar menyampaikan bahwa kisah Boneka My Lala menjadi gambaran nyata pendekatan pemasyarakatan yang humanis.
Menurutnya, pembinaan tidak hanya mengajarkan keterampilan kerja, tetapi juga menyembuhkan luka batin dan menghidupkan kembali harapan warga binaan.
“Di balik tembok rutan, mereka tetap seorang ibu, seorang manusia yang memiliki cinta dan masa depan,” ujarnya.
Hari itu, banyak pengunjung yang mendatangi stan boneka My Lala, bukan sekadar sebagai suvenir. Mereka membawa pulang sebuah cerita—tentang penyesalan, cinta seorang ibu yang tak pernah berkurang, dan harapan bahwa setiap manusia, seberapa pun berat masa lalunya, masih berhak mendapatkan kesempatan kedua.
Di balik senyum pengunjung bazar, terselip air mata yang jatuh diam-diam, menyadari bahwa boneka kecil itu sesungguhnya adalah pelukan seorang ibu yang tertunda.(AVID)



















